Selama lebih dari satu dekade, kalau kamu jual aplikasi atau game lewat Play Store, Google ambil 30 persen dari setiap transaksi yang masuk. Titik. Tidak bisa nego, tidak ada opsi lain, ambil atau tidak usah jual sama sekali.
Itu sekarang resmi berubah dan bukan karena Google berbaik hati.
Mulai 30 Juni 2026, Google potong biaya Play Store komisi standarnya menjadi 20 persen untuk mayoritas developer, bahkan turun sampai 10 persen khusus untuk layanan subscription. Ini bukan keputusan sukarela. Ini hasil dari gugatan antitrust yang diajukan Epic Games sejak 2020 perusahaan di balik Fortnite yang berujung pada putusan juri di 2023 yang menyatakan Google bersalah melindungi monopoli Play Store secara ilegal.
Tapi ada satu hal yang sering tidak disebutkan di artikel-artikel lain soal ini: perubahan ini tidak berlaku serentak ke seluruh dunia. Dan Indonesia ada di antrian paling belakang.
Rincian Pemangkasan Biaya Play Store yang Berlaku per 30 Juni
Struktur lama Play Store cukup sederhana: 30 persen untuk kebanyakan transaksi, dengan keringanan 15 persen khusus developer yang pendapatan tahunannya di bawah $1 juta. Struktur barunya jauh lebih bertingkat.
Untuk in-app purchase dari instalasi baru, komisi turun ke 20 persen. Developer yang ikut program App Experience atau program Play Games Level Up yang diperbarui bisa dapat tarif lebih rendah lagi, 15 persen. Subscription mendapat pemotongan paling drastis dari 30 persen jadi hanya 10 persen.
Yang lebih signifikan dari sekadar angka: developer sekarang bisa pakai sistem pembayaran mereka sendiri di dalam aplikasi, atau langsung arahkan pengguna keluar aplikasi ke halaman pembayaran milik mereka sendiri sesuatu yang sebelumnya dilarang keras oleh kebijakan Google. Kalau developer memilih tetap pakai sistem billing Google tapi di luar jalur instalasi standar, ada biaya tambahan 5 persen. Tapi kalau developer arahkan transaksi keluar Play Store sepenuhnya, mereka tidak berutang biaya apapun ke Google untuk transaksi tersebut.
Google juga membuka jalur baru bernama program “Registered App Stores” yang dirancang supaya toko aplikasi pihak ketiga lebih mudah terpasang di perangkat Android, sebagai bagian dari komitmen membuka ekosistem yang lebih kompetitif.
Kembalinya Fortnite ke Android, Simbol Kemenangan Epic Games
Ada satu detail yang jadi simbol paling kuat dari penyelesaian kasus ini: Fortnite akan kembali tersedia di Google Play Store secara global.
Epic Games mencabut Fortnite dari Play Store sendiri pada 2020, tepat setelah mereka memasukkan sistem pembayaran langsung yang melewati jalur billing Google langkah provokatif yang sengaja memicu gugatan hukum ini dari awal. Lima tahun kemudian, CEO Epic Games Tim Sweeney mengonfirmasi Fortnite akan hadir kembali di Android lewat Play Store di seluruh dunia.
Epic juga tetap mempertahankan Epic Games Store versi Android mereka sendiri, berjalan paralel dengan keberadaan di Play Store sesuatu yang baru mungkin secara teknis dan legal setelah keterbukaan sistem yang dipaksakan lewat gugatan ini.
Menariknya, bagian dari kesepakatan ini juga mencakup klausul yang menahan Tim Sweeney dari mengkritik Google secara terbuka sampai setidaknya tahun 2032 detail yang sempat ramai dibahas komunitas developer karena terasa ironis mengingat seberapa vokal Sweeney selama proses litigasi berjalan.
Rollout Bertahap dan Kapan Indonesia Kebagian
Ini bagian paling penting untuk developer Indonesia, dan jujur saja, kabarnya tidak terlalu menggembirakan untuk jangka pendek.
Tiga wilayah pertama yang mendapat struktur biaya baru per 30 Juni 2026 adalah Amerika Serikat, Inggris, dan kawasan Ekonomi Eropa (EEA). Australia menyusul pada 30 September 2026. Korea Selatan dan Jepang baru mendapat perubahan ini pada akhir Desember 2026. Google menargetkan seluruh dunia termasuk Indonesia baru mendapat struktur baru ini paling lambat 30 September 2027.
Urutan ini tidak acak. Eropa adalah kawasan dengan tekanan regulasi paling agresif terhadap praktik app store lewat Digital Markets Act. Inggris punya badan pengawas Competition and Markets Authority yang sudah lama menyelidiki biaya app store. Amerika Serikat adalah tempat gugatan Epic Games ini sendiri disidangkan. Ketiganya mendapat prioritas karena tekanan hukum dan regulasi yang paling besar datang dari sana.
Indonesia, sebagai bagian dari “rest of the world” dalam peta rollout Google, harus menunggu hingga lebih dari satu tahun ke depan sebelum struktur biaya baru ini benar-benar berlaku untuk developer lokal. Selama periode itu, developer Indonesia yang menjual aplikasi atau game lewat Play Store kemungkinan masih akan dikenakan struktur komisi lama 30 persen standar, atau 15 persen untuk yang pendapatan tahunannya di bawah $1 juta.
Dampak Nyata untuk Developer Indonesia
Walau struktur resmi baru belum berlaku di Indonesia, ada beberapa hal yang tetap relevan untuk dipahami developer lokal mulai sekarang.
Pertama, kalau aplikasi atau game kamu juga menyasar pengguna di Amerika Serikat, Inggris, atau Eropa, kamu sudah bisa langsung memanfaatkan struktur biaya baru untuk transaksi dari wilayah-wilayah itu mulai 30 Juni ini meski basis pengguna utama kamu di Indonesia belum terdampak. Cek dashboard Play Console untuk melihat opsi billing baru yang mungkin sudah muncul tergantung wilayah pengguna yang bertransaksi.
Kedua, ini momen yang bagus untuk mulai mempelajari opsi alternative billing meski belum bisa dipakai penuh di Indonesia. Ketika rollout global benar-benar sampai di sini, developer yang sudah familiar dengan sistemnya akan lebih siap dibanding yang baru mulai belajar saat itu juga.
Ketiga, dan ini yang paling realistis: jangan terlalu berharap perubahan signifikan dalam waktu dekat. Kalau model bisnismu sangat bergantung pada margin yang lebih baik dari pemotongan komisi ini, perencanaan keuangan untuk satu tahun ke depan tetap harus berdasarkan struktur biaya yang berlaku sekarang, bukan yang dijanjikan nanti.
Ini Bukan Soal Kebaikan Hati Google
Penting untuk diingat konteks di balik semua ini: Google tidak melakukan ini karena ingin lebih baik kepada developer. Mereka melakukannya karena kalah di pengadilan.
Putusan juri 2023 menyatakan secara tegas bahwa Google melanggar hukum antitrust dengan melindungi Play Store dari kompetisi secara ilegal. Ini berbeda dari kasus serupa yang dihadapi Apple, yang hasilnya lebih ambigu Apple dipaksa mengizinkan beberapa link pembayaran eksternal tapi struktur komisi intinya sebagian besar tetap utuh. Kekalahan Google jauh lebih komprehensif, dan penyelesaiannya mengharuskan perubahan struktural, bukan sekadar penyesuaian biaya kecil-kecilan.
Untuk konteks skala: nilai pasar Alphabet, perusahaan induk Google, sekarang mencapai $3,7 triliun empat kali lebih besar dibanding saat Epic pertama kali mengajukan gugatan di 2020. Pemotongan komisi Play Store memang akan berdampak pada pendapatan Google dari ekosistem Android, tapi dalam skala bisnis sebesar itu, dampaknya kemungkinan tidak akan mengubah arah perusahaan secara fundamental.
Yang lebih penting dari angka-angka ini adalah presedennya: untuk pertama kalinya dalam sejarah Android, struktur monopoli yang selama ini dianggap “memang begitu adanya” terbukti bisa digugat dan diubah lewat jalur hukum. Itu yang membuat kasus ini relevan jauh di luar sekadar persentase komisi.
Buat developer di Indonesia yang aplikasinya juga menyasar pasar global, sekarang saat yang tepat mulai pelajari opsi billing baru lewat dokumentasi resmi Google for Developers supaya begitu giliran Indonesia tiba di 2027, kamu sudah lebih siap dari kebanyakan orang.
Kamu developer Android di Indonesia? Apa pendapatmu soal harus menunggu sampai 2027 untuk dapat struktur biaya yang sama dengan developer di Amerika dan Eropa? Tulis di komentar.
Baca juga: Zero-Day Ditemukan di Android 14, 15, dan 16 dan artikel berita tech terbaru lainnya di TeknosArena.








